lcLB9QMQam2libjfHWIRa1O2PTahFmLdYn1lizA9

Laporkan Penyalahgunaan

Cari Blog Ini

Sawangan Merpati / Hatong - Sejarah, Jenis dan Fungsinya.

gambar sawangan merpati
Sawangan merpati yang bagus menjadi sebuah benda wajib dimiliki penghobi merpati. Apalagi trend sekarang adalah hatong yang terpasang di leher / kalung.

Sawangan / Peluit Merpati, itu apa ?. Merupakan alat yang kebanyakan dipasangkan pada ekor burung merpati, namun ada juga didesain sebagai kalung dan dengan dibentuk sedemikian rupa sehingga saat merpati terbang, benda itu akan menghasilkan bunyi nyaring yang khas.

Dalam bahasa inggris sendiri, benda ini diberi nama Pigeon Whistle, di Cina negeri hutan bambu sendiri mengenalnya dengan penyebutan geling 鸽铃 atau geshao 鸽哨. Kalau orang jawa tengah dan timur menyebutnya dengan Sawangan Dara. Kalau orang jawa barat lebih mengenalnya dengan sebutan Hatong.


Sejarah

Sejarah sangatlah penting agar kita dapat melihat apa saja cerita dan perjalanan yang dilalui dari sebuah benda sehingga mampu mencapai sebuah keadaan sekarang ini.

Melihat dari sedikitnya catatan tentang sawangan merpati di bangsa barat atau bisa jadi tidak ada sejarahnya dan asal-usulnya di sana, maka bisa disimpulkan bahwa instrumen yang melekat pada burung merpati ini bukan berasal dari sana. Dan benar saja, mereka berasal dari Asia.

Indonesia

Sungguh disayangkan sangat sedikit sekali catatan dan informasi saya dapatkan tentang hatong/sawangan merpati yang ada di nusantara. Mungkin seiring berjalannya waktu dan pencarian lebih mendalam, nanti saya akan menemukan misteri sejarah benda ini, bagaimana mereka bisa ada di bumi Nusantara. Tunggu update an artikel ini.

Atau bila dari para pengunjung website ini memiliki dan mengetahui sejarah dari hatong, kalian bisa berpartisipasi melalui kolom komentar.

Cina

foto sawangan merpati
Sekitar seribu tahun lalu tepatnya bangsa Asia Timur, khususnya di daratan sekarang disebut dengan Tiongkok telah mengenal seni membuat peluit untuk dipasangkan di burung merpati. Tepatnya selama Dinasti Song Utara (960-1172) menurut catatan yang ada mengatakan bahwa para tentara dari Kerajaan Xia Barat menggunakan merpati berpeluit sebagai sinyal militer ketika sedang melakukan penyerangan ke pasukan Song.

Dilanjutkan dengan era Dinasti Song Selatan (1127-1279) sawangan merpati mulai menyebar di kalangan masyarakat biasa.

Kemudian pada masa awal Dinasti Qing (1644-1911), dimana merupakan masa-masa damai untuk negara panda, mungkin diartikan sebagai tidak ada peperangan / selalu menang. Para tentara Delapan Bendera menikmati masa kedamain mereka, kemudian ditempatkan di Beijing beserta dengan tunjangan, alih-alih melakukan tugasnya berkampanye, malah mendapatkan banyak uang dan bahan pangan seperti gandum dari negara. Sebagai hasilnya, mereka lebih suka untuk mengembangkan hobinya seperti memelihara burung, ikan ataupun jangkrik. Semakin banyak waktu dihabiskan untuk hobinya, semakin maju dan sempurna pula teknik dalam perawatan dan bagaimana cara agar hobinya terlihat lebih menarik.

Memelihara merpati dengan peluit kemudian menjadi sebuah trend sangat populer dan merebak di masyarakat selain memperhatikan penampilan merpati itu sendiri dan asal-usul keturunannya. Membuat banyak orang melakukan berbagai pengembangan jenis sawangan merpati. Berlomba bagaimana menciptakan suara lebih bagus, halus dan indah. Dan kemudian membuatnya kegiatan itu menjadi sebagai sebuah budaya di sana.

Orang tradisional sana memiliki kebiasaan tersendiri, yaitu melepaskan merpati dari kandangnya pada pagi dan sore hari, istilah orang sana "circling pigeon". Mungkin istilah orang Jawa itu "ngumbar".

Melepaskan merpati secara bergerombol dan kemudian membiarkannya terbang di angkasa, biasanya mereka akan terbang melingkar dan tidak pernah jauh dari sarangnya, dengan para pemilik membawa tongkat yang terdapat bendera pada ujungnya untuk memberi aba-aba kepada para gerombolan merpati.

Disaat terbang itu angin akan melewati sawangan sehingga menimbulkan bunyi, dan bunyi dihasilkan akan berbeda tergantung dari bentuk sawangannya.

Hanya dengan melihat mereka terbang dan bagaimana hembusan angin memainkan instrumen itu cukup membuat para pemilik merasa bahagia. Ya, tidak jauh beda dengan para penghobi merpati disini.

Bisa disimpulkan pada jaman dulu masyarakat disana terbiasa memelihara merpati. Namun, untuk sekarang menjadi berkurang, karena urbanisasi dan regulasi pemerintah dalam memelihara burung merpati, apalagi di kota besar.

Jenis

Untuk sekarang, kami belum tahu seberapa banyak jenis hatong yang ada di seluruh dunia. Setiap negara, setiap daerah memiliki keunikan dan keragaman jenis sawanganya sendiri. Berikut diantaranya memiliki keunikan tersendiri.

Di Cina, para pengrajin disana biasanya menggunakan bahan dasar untuk membuat sawangan merpati adalah bambu atau labu. Labu berukuran kecil dilubangi, diambil isinya setelah itu ditutup dengan bambu yang telah terdapat lubang agar berfungsi sebagai penangkap angin. Beberapa jenis sawangan bahkan memiliki lebih dari satu lubang, bertujuan untuk menghasilkan suara beragam/berbeda saat mengangkasa.

jenis sawangan merpati
Sawangan merpati Beijing terbagi menjadi empat jenis berdasarkan bentuknya menurut Zhang Bao-tung :
  • Calabash Type : Tipe labu, Material labu membuatnya berbentuk bulat, dan bahan ini sebagai komponen utama dalam terciptanya suara pada benda ini. Kira-kira tidaklah terlalu besar ukuran labu yang digunakan, diameternya berkisar ujung ibu jari dan ujung jari tengah saat dipertemukan dan membentuk lingkaran. Atau mungkin ukurannya ada juga yang lebih besar dari itu.
  • Tube Type : Seluruh komponennya terbuat dari bambu dan membentuk tabung.
  • Star-line Type : Sawangan tersusun dari beberapa baris dan deret tabung bambu yang terpasang di sebuah alas.
  • Stareye Type : atau mungkin combined, desainnya merupakan gabungan dari bambu dan labu.

Setiap jenis sawangan merpati menghasilkan sifat bunyi berbeda-beda. Misalkan Tube Type memiliki jenis suara lebih renyah atau nyaring. Sedangkan sifat dari bunyi yang dihasilkan oleh Calabash Type akan lebih terasa dalam / berat.

Burung merpati terbilang burung kecil dan membutuhkan sebuah keringanan tubuh agar dapat terbang dengan mudah. Itu juga menjadi catatan bagi para pengrajin sawangan merpati untuk instrumen musik ini. Ibaratnya hatong ini harus setipis kertas dan seringan bulu, bahkan berat sawangan sudah di pernis tidak boleh lebih dari delapan gram.

Dikatakan bahwa para pengrajin di sana membutuhkan waktu satu hari untuk mengerjakan sebuah sawangan merpati sederhana. Namun beda cerita bila desainnya rumit, bisa membutuhkan waktu yang lebih lama. Bukan sekedar keindahan dan bagus tampilannya tetapi suara yang dihasilkan dari geshao itulah yang diutamakan dan dicari. Harus jelas dan merdu.

Pada jaman dulu bahkan para pengrajin pembuat geshao memberikan ukiran berisi nama mereka, untuk menandakan bahwa peluit merpati itu karya dari tangan mereka. Mirip seperti para pengrajin jam swish.

Diceritakan terdapat empat pengrajin terkenal pada masa Dinasti Qing yaitu Hui, Yong (senior), Xing dan Ming. Kemudian ditambah dan dilanjutkan pada masa RRC (1912-1949), terdapat Yong (junior), Xiang (Zhou Chunquan), Wen (Tao Zuowen), Hong (Wu Yutong). Generasi itu sekarang dikenal dengan delapan artis utama dalam dunia geshao di Cina.

Walaupun terbilang dari bahan pembuatan sederhana dan orang pikir dapat membuatnya dengan mudah. Nyatanya sekarang para pengrajin itu semakin lama semakin berkurang. Salah satu hal mendasarinya adalah para ahli tidak mau membagikan keterampilannya atau tidak menerima murid. Mereka berpendapat bahwa setiap pengrajin harus memiliki gayanya sendiri dalam membuat geshao.

Sudah selesai nih, membahas instrumen unik yang terdapat di negeri orang. Sekarang kembali ke tanah kelahiran sendiri. Berikut jenisnya.

Di Nusantara. Baru beberapa wilayah yang kami tahu dimana mereka membuat sawangan merpati seperti contohnya Pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Lalu bagaimana dengan Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi, bahkan Papua ?. Saya belum mengetahuinya. Bagi teman-teman memiliki wawasan dan informasi tentang benda merdu ini, bisa dipersilahkan untuk berbagi di kolom komentar.

sawangan merpati di leher khas lombok
Pulau Lombok sendiri misalkan. Masyarakat lokal mengenalnya dengan sebutan “Greneng” dan “Sendari”. Keunikannya dari jenis ini adalah mereka dipasangkan di leher merpati atau disebutnya kalung.

Greneng khusus di kenakan ke betina merpati. Peluit yang terpasang pun tidak cuma satu namun bisa 3, 5, bahkan 7. Bentuknya berupa lonceng dengan diisi dengan bola tembaga kecil. Ukuran terkecilnya 8 mm dan terbesarnya 16 mm dan disolder pada cincin kawat berdiameter 44 mm. Beratnya keseluruhan diperkirakan 7 gram. Tentu saja lubang pada lonceng di modif agar dapat menerima angin di saat terbang sehingga dapat berbunyi. Membuatnya disaat terbang dapat menjadi lonceng dan sebagai peluit. Dan ketika merpati berjalan di darat, benda itu beralih menjadi lonceng lengkap dengan bunyi gemericiknya.

Sendari
dipakai hanya pada jantan merpati. Dibandingkan dengan greneng, peluitnya hanya ada satu namun berukuran besar berkisar 3 x 4 cm dan berbentuk seperti tong kecil. Beratnya tidak lebih dari 10 gram. Materialnya terbuat dari kayu bahkan tanduk kerbau.

Peluit merpati / Hatong di Pulau Jawa lebih berbeda lagi desainya dari apa yang sudah saya sebutkan diatas, seperti lebih aerodinamis dengan bentuk segitiganya. Material penyusunya bisa dari kayu, keramik, bahkan tanduk. Jenisnya meliputi berikut ini :
Jenis Sawangan Burung Dara - Kasogi
Foto Hatong Jenis Kosambi
Sawangan Merpati Type Kembar Dempet
Sawangan Merpati Lima Lubang
  • Tipe Kasogi. Kebanyakan terdapat di seluruh pulau jawa, terbuat dari kayu sonokeling dengan bagian atas ditutup dengan aluminium maupun kuningan.
  • Tipe Kosambi. Umumnya terbuat dari kayu sengon dan diberi gambar dengan berbagai motif.
  • Tipe Kembar Dempet. Dua buah sawangan disatukan, membuatnya berdempetan depan-belakang.
  • Tipe Lima Lubang. Satu buah sawangan merpati namun terdapat lima lubang di bagian atasnya.

Dan masih banyak lagi, bisa saja sampai puluhan jenis dengan rupa berbeda-beda.

Para penghobi dan penikmat sawangan merpati di indonesia masih eksis walaupun jarang, bila anda menengoknya di kota-kota besar seperti jakarta.

Namun akan sangat berbeda dan mudah dijumpai bila kalian berkunjung ke desa-desa. Bahkan mereka sampai membuat sebuah lapangan yang kemudian khusus menjadi tempat untuk adu merpati / balapan merpati.

Kalau saya sendiri, masih mendengar suara benda ini dengan jelas di sore hari, memberikan sebuah kekhasan tersendiri bila mendengar suara itu. Sebagai sebuah tanda bahwa saya masih tinggal di pulau jawa.

Fungsi

  • Membuat kawanan merpati tetap bersama.
  • Menjauhkan dari elang pemangsa dan burung pemangsa lainya. Walaupun ini diperdebatkan, apakah benar suara nyaring dari hatong dapat menakut-nakuti elang yang sedang lapar untuk berhenti memangsa merpati.
  • Sebagai sebuah identitas kepemilikan selain dari cincin yang dipasang pada kaki merpati.
  • Orang jaman dulu, menggunakan sawangan merpati sebagai sinyal militer.
  • Sebagai aksesoris dan mempercantik penampilan burung merpati. Apalagi bila sawangan merpati itu terbuat dari emas, pasti harga jualnya tambah mahal.

Sawangan Merpati Unik

Selain itu semua, ini dia beberapa desain sawangan merpati dengan bentuk unik hasil dari beberapa pengrajin yang memiliki daya imajinasi tinggi. Namun, karena bentuk uniknya tersebut mungkin akan mengganggu aerodinamik merpati di saat terbang.
sawangan merpati dari bambu
sawangan merpati yang bagus
hatong burung merpati
cara membuat sawangan merpati dari barang bekas
bentuk sawangan merpati unik
sawangan burung dara

Related Posts

Related Posts

Posting Komentar