lcLB9QMQam2libjfHWIRa1O2PTahFmLdYn1lizA9

Laporkan Penyalahgunaan

Cari Blog Ini

Ketonggeng: Klasifikasi, Jenis, Habitat, Makanan, Cara Memelihara dan lainnya.

Jenis Ketonggeng, Klasifikasi, Cara Memelihara. Menjawab Pertanyaan Apakah Ketonggeng Berbahaya
Ketonggeng. Apakah kalian pernah melihat binatang ini ?. Bentuknya unik dan saat saya pertama kali melihat ketungging di tempat cuci piring saya, Sempat berpikir apakah mereka kalajengking namun ternyata setelah diri ini bertanya kepada ibu, ternyata hewan berwarna hitam yang saya temui itu bernama ketonggeng.

Ketunggeng adalah nama umum / bahasa indonesia untuk menyebutkan hewan berbuku ini dan penyebutan itu juga digunakan oleh sebagian orang untuk menunjuk hewan dari order Uropygi atau Thelyphonida. Entah kenapa diberi nama ketunggeng, apa karena posisi tubuh kalajengking cambuk bentuk posisinya seperti orang yang sedang nungging ? Siapa tau kan.

Termasuk ke dalam Arachnida yang berarti masih berhubungan dengan kalajengking dan laba-laba.

Tapi In english bisa disebut dengan “whip scorpion”, yang artinya adalah kalajengking cambuk atau disebut juga “vinegaroons”, bukan tanpa alasan penyebutan itu diberikan, nama itu dipilih karena bentuk pertahanan diri ketungging saat terancam oleh lawan adalah mengeluarkan cairan yang gabungan dari asam asetat dan oktanoat sehingga menghasilkan baunya seperti cuka. Sedangkan dalam lingkungan para peneliti, hewan kecil ini kalajengking cambuk lebih suka memanggilnya dengan “uropygids”.

Binatang yang masuk ke dalam phylum arthropoda memiliki memiliki beberapa sebutan di berbagai belahan dunia. Contohnya: yang paling dekat dengan kita, darah Bali menyebutnya dengan Teledu. Orang arab mengenalnya dengan عقربيات_سوطية. Kalau bahasa Jepang nya: サソリモドキ , penyebutannya Sasori Modoki. Kalau Belanda / Netherlands, istilah orang sanannya adalah sweepstraat schorpioenen.

Klasifikasi

Klasifikasi Ketungging
Kingdom Animalia
Phylum Arthropoda
Subphylum Chelicerata
Class Arachnida
Order Thelyphonida

Jenis

Tahun 2006 telah diumumkan bahwa lebih dari 100 spesies kalajengking cambuk yang ada di seluruh dunia berhasil di deskripsikan dan hal itu dicatat dalam Joel Hallan's Biology Catalog. Namun angka itu masih bisa berubah dalam artian bisa bertambah karena mengingat bahwa katalog itu diterbitkan pada tahun 2005 sedangkan sekarang sudah 2020.

Terdapat fakta menarik juga dari perhitungan berapa sih jumlah ketonggeng yang ada di Indonesia berdasarkan List of Thelyphonidae species dan hasilnya adalah terdapat 26 spesies, itu semua mencakup wilayah Borneo, Sumatra, Jawa, dan Lombok. Tapi itu juga masuk akal karena 80% populasi kalajengking cambuk yang ada di seluruh dunia memang berada di Asia, mulai dari India hingga Sri Lanka.

Berikut ini beberapa jenis ketonggeng yang ada di seluruh dunia:

Mastigoproctus giganteus

Mastigoproctus giganteus sebagai Jenis Ketonggeng Raksasa
Biasa dipanggil dengan sebutan grampus atau giant vinegaroon. Dalam dunia ketonggengan, genus Mastigoproctus memang dikenal memiliki spesies raksasa dan yang saya sebutkan ini adalah salah satunya. Bayangkan saja, kebanyakan ketungging hanya dapat mencapai ukuran tubuh berkisar 30 mm, sedangkan si hitam satu ini dapat tumbuh hingga 40 - 60 mm, tidak termasuk ekor. Tapi ada juga yang mencapai ukuran 85 mm dan berat tubuh 12,4 gram.

Digambarkan, memiliki enam kaki untuk berjalan, dua kaki berbentuk antena untuk merasakan getaran sekitar/mangsa, lalu ada sepasang palpi yang telah dimodifokasi menjadi cakar untuk menghancurkan mangsanya.

Sedangkan untuk penglihatan. Matanya kurang bisa untuk diandalkan meskipun jumlahnya ada delapan: Dua berada di depan dan tiga lainnya berada di sisi kanan dan kiri. Oleh karena itu sebagai navigasi, ketunggeng raksasa ini lebih mengandalkan kaki depannya yang panjang, ekor, dan palpi untuk merasakan getaran.

Penyebarannya aslinya melingkupi Amerika Selatan dan Meksiko.

Jantan memiliki rentang hidup sekitar 7-8 tahun, sedangkan betina dapat bertahan lebih lama lagi yaitu 20 tahun. Namun menentukan perbedaan antara jantan dan betina sangatlah sulit pada binatang ketonggeng. Patokan untuk melihat perbedaan yang diketahui hanyalah jantan memiliki pedipalp yang lebih panjang sedangkan pada betina lebih kuat. Sangat membingungkan bukan.

Di jaman sekarang, keberadaan spesies ini telah masuk sebagai hewan peliharaan dan masuk sebagai binatang eksotis di tempat jual-beli hewan. Harga jualnya dalam keadaan hidup dan sudah dewasa di pasar internasional sendiri berkisar $ 21-29, kalau di rupiahkan berkisar Rp 300.000 - 400.000. Sebuah harga yang fantastis.

Mastigoproctus colombianus

Mastigoproctus colombianus
Masih dalam genus yang sama dari sebelumnya dan penyebarannya hanya meliputi Kolombia, Amerika Selatan. Lebih tepatnya dekat daerah gurun bagian barat.

Tubuhnya bisa mencapai panjang sekitar 45 - 65 mm disertai kaki berwarna coklat dengan ujung kemerahan.

Habitat kesukaan ketonggeng besar ini tinggal adalah tropis dan subtropis di kolombia dan kebiasaan saat di siang harinya adalah menggali lubang di kayu busuk dengan palpi nya untuk menghindari sinar matahari, karena sifat alami Thelyphonida adalah hewan nokturnal.

Malam hari adalah waktu yang pas untuk berburu mangsa. Dengan cara menyergap secara diam-diam dan menangkapnya dengan palpinya lalu membawa ke dalam sarang atau tempat persembunyian.

Sedangkan untuk jantan memiliki sifat berkelahi antar pejantan lain.

Etienneus africanus

Ketonggeng Cantik Jenis (Etienneus africanus)
Menjadi satu satunya spesies ketonggeng dari benua Afrika dan sepertinya jadi satu-satunya pengisi dalam genus Etienneus.

Memiliki panjang dewasa maksimal 30 mm dengan karapas, tergites, punggung berwarna coklat sampai coklat tua kemerahan.

Tanah di bawah bebatuan maupun batang pohon dengan kondisi lembab menjadi tempat favorit mudah ditemukannya mereka. Selama Musim kemarau, individu menggali untuk mencapai kelembaban dan tetap tidak aktif di bawah permukaan tanah sampai datangnya hujan pertama, lalu muncul kembali ke permukaan.

Etienneus africanus saat ini ditempatkan di subfamily Hypoctoninae karena tidak memiliki acarina antara oselus lateral dan median. Itu sebelumnya disarankan bahwa tidak ada penduduk asli kalajengking cambuk ada di Afrika, dan spesies ini mungkin diperkenalkan ke wilayah Gambia, 130–150 tahun yang lalu, dalam pengiriman bahan pertanian dari Burma (Myanmar) atau Thailand (Millot, 1949; Cooke dan Shadab,1973).

Spesies Afrika awalnya ditempatkan di bawah Hypoctonus karena tidak memiliki gigi aksesori; laki-laki, dan karenanya status apophysis pedipalp patella jantan tidak diketahui.

Namun hasil penelitian yang dirangkum dalam artikel On the African Whip Scorpion, Etienneus africanus(Hentschel, 1899) (Thelyphonida: Thelyphonidae),with a Redescription Based on New Material from Guinea-Bissau and Senegal. Diterbitkan pada tahun 2009 oleh American Museum Novitates.

Dari artikel tersebut mereka mendiskusikan dan mengatakan bahwa mereka membantah hipotesis bahwa E. africanus awalnya didistribusikan ke wilayah Gambia dari Burma, Asia. Sebaliknya, secara morfologi menunjukan lebih dekat ke kalajengking cambuk dari Barat dibandingkan Asia.

Hypoctonus formosus

Hypoctonus formosus
Sebagai hewan endemik di Myanmar dan memiliki dua spesies turunannya yaitu Hypoctonus formosus formosus (Bulter, 1872) dan Hypoctonus formosus insularis (Oates, 1889).

Typopeltis stimpsonii

Typopeltis stimpsonii
Diketahui bahwa terdapat dua jenis kalajengking cambuk di bagian selatan negara jepang yaitu T stimpsonii itu sendiri dan T. crucifer.

Ginosigma schimkewitschi

Ginosigma schimkewitschi
Di petakan oleh orang bernama Tarnani pada tahun 1894 dan memiliki penyebaran populasinya melingkupi negara Thailand dan Kamboja. Warna seluruh tubuhnya hitam dengan pengecualian bagian ekor dan ujung kaki berwarna merah tua. Foto ini berhasil diabadikan oleh J. Maughn pada tanggal 8 Januari 2015. Cantik sekali.

Memang walaupun sudah 100 jenis lebih ketungging yang telah dipetakan, tapi penjelasan detail tentang binatang hidup ini masih sangat sedikit. Bisa dibilang, wawasan menditail tentang karakteristik, habitatnya dimana, cara berkembang biaknya seperti apa, semua informasi itu masih sulit untuk didapatkan.

Habitat

Salah satu fakta unik dari kalajengking cambuk tentang penyebarannya adalah mereka tidak ditemukan dan tidak ada di Australia. Sangat lucu sekali, karena kalajengking asli pasti ada di sana sedangkan hewan ini keberadaannya tidak terdeteksi di daerah tersebut.

Yang jelas teledu ini suka dengan daerah beriklim tropis dan subtropis. Walaupun begitu, keberadaan hewan kecil nan hitam ini tidak akan pernah kalian jumpai di benua biru, hijau dan abu-abu.

Mendiami bawah batu, di bawah batang kayu yang tumbang atau busuk adalah cara ketonggeng bertahan hidup dari predator dan ketidak sukaan akan sinar matahari.

Makanan

Merupakan merupakan hewan karnivora yang artinya pemakan daging, jadi jangan harap dan berpikir bahwa kalian dapat memberikan hewan berbuku-buku ini sayuran ya.

Di alam liar sendiri ketonggeng melakukan perburuan untuk mendapatkan mangsa yang dilakukannya pada malam hari. Caranya dengan berdiam dan menunggu, sambil melakukan posisi itu mereka akan mengamati dengan getaran yang dirasakan dengan kakinya dan sedikit menggunakan indra penglihatan. Dan ketika dirasa mangsa telah mendekat, maka itu adalah waktu yang tepat untuk melakukan penyergapan dan menangkap menggunakan pedipalpnya. Setelah tertangkap, biasanya hasil buruan akan dibawa ke tempat persembunyian.

Menu favorit binatang dari ordo Thelyphonida ini adalah

  • Jangkrik
  • Kecoa
  • Siput
  • Cacing
  • Kaki Seribu
  • Binatang kecil lainnya

Jadi bisa dibilang, kalajengking cambuk juga menjadi salah satu binatang yang menjaga populasi kecoa di bumi, menjadi salah satu hewan yang masuk dalam rantai makanan kecoa sebagai predator. Itu adalah hal positif teledu dan kita manusia patut berterimakasih.

Cara Memelihara

Jaman sudah berganti, ketungging sekarang bukanlah hewan yang dihindari atau dianggap menjijikan. Buktinya wanita didalam foto ini dengan beraninya menyentuh dan memegang ketonggeng di tangannya. Bahkan sekarang jenis Mastigoproctus giganteus mulai dilirik sebagai binatang eksotis. Dan mulai menjadi binatang peliharaan seperti karantula ataupun kalajengking. Tapi kebanyaan orang masih mempertanyakan.

Apakah Ketonggeng Berbahaya ?

Banyak sekali orang bertanya-tanya tentang “Apakah ketonggeng itu berbahaya atau apakah teledu hewan yang beracun ?” Jawabannya adalah tidak berbahaya.

Ketonggeng memang aman untuk dijadikan hewan peliharaan. Tapi perlu dicatat bahwa kasus yang sangat langka sekali mereka dapat menggigit manusia disaat kalajengking cambuk merasa terancam, namun pada gigitan nya tidak terdapat bisa sama sekali.

Namun tetap saja yang namanya digigit itu terasa menyakitkan. Namun bila ingin lebih merasa aman memelihara vinegaroons, perlakukan saja makhluk ini seperti kalajengking sungguhan dimana kita juga harus menghindari pedipalpnya.

Bentuk pertahanan teledu itu adalah menyemprotkan cairan asam yang aromanya seperti cuka melalui pangkal ekornya. Tapi aroma itu lebih kuat karena cuka hanya mengandung 5% asam asetat sedangkan whip scorpion berisi 80%. Bagi hewan tanpa tulang belakang / Invertebrata, cairan itu dapat merusak dan menghancurkan bentuk perlindungan paling luar mereka, lebih mudahnya coba kalian bayangkan kelabang namun kulit luarnya yang berhasil dirusak oleh cairan ini, nah seperti itu. Tidak berbahaya untuk kulit manusia kecuali untuk orang yang memiliki alergi terhadap cairan ini, namun jangan sampai terkena area kulit yang terluka. Itu akan terasa menyakitkan.

Sungguh baunya sangat menyengat, dan saya sedikit merasa pusing saat menyium baunya. Karena beberapa waktu yang lalu, saya tidak sengaja menemukan ketonggeng di dapur, sontak saya langsung menangkapnya. Dan benar saja tentang seberapa menyengat aroma yang seperti cuka itu. Moment ini sempat saya abadikan melalui video, kalian dapat menontonya nanti.

Ketidak berbahayaan inilah membuat banyak orang menjadikan hewan yang hidup di lantai hutan sebagai peliharaan. Tetapi, hewan ini tidaklah direkomendasikan untuk anak-anak, itu menurut saya. Ayolah kalian pasti tidak ingin anak kalian tidak sengaja tersemprot cairan pertahanan hewan ini dan membuatnya beraromakan seperti cuka dapur bukan ?.

Lalu bagaimana sih cara memelihara ketonggeng ?. Berikut ini saya akan mengambil spesies Mastigoproctus giganteus sebagai contoh dalam bagaimana melakukan pemeliharaan agar kalian memiliki gambaran tentang yang harus dilakukan saat ketonggeng ini ketika berada di rumah kalian dan memiliki peran sebagai hewan peliharaan. Sekedar informasi, teledu itu tergolong ke dalam hewan yang levelnya mudah untuk rawat.

Saat memelihara hewan apapun itu, kalian harus memperhatikan dua hal dasar ini terlebih dahulu. Tempat dan makanan, setelah hal ini terpenuhi maka itu sudah cukup.

Wadah

Vinegaroons suka menggali untuk bersembunyi dari sinar matahari dan juga binatang pengganggu. Dalam hal ini, ukuran tempat yang luas akan membuat hewan kecil ini nyaman. Namun ukuran tempat untuk whip scorpion, tidaklah mutlak seperti apa yang kami deskripsikan, ini kembali lagi dengan isi kantong kalian dan ketersediaan tempat.

  • Contoh yang kita gunakan adalah akuarium. Bisa berukuran 5 atau 10 galon. Untuk ukuran lain bisa, itu bebas. Penutup akuarium tidak diperlukan, karena mereka termasuk jenis yang tidak bisa mendaki di kaca seperti tarantula. Jadi jangan kuatir bila kalian lupa menutup bagian atas akuarium karena mereka tidak akan melarikan diri. 
  • Berikanlah substrat, karena spesies ini menghabiskan banyak waktunya untuk menggali, bahkan bisa bersembunyi di bawah substrat selama berminggu-minggu. Substrat yang digunakan bisa cocopeat, cocofiber, cocodust, vermiculite dan tanah. Sebagai tips, berikanlah ruangan lebih banyak untuk substrat. Seberapa banyak, bisa 10 cm atau lebih.
  • Kemudian berikanlah wadah air di dalam akuarium. Dan bisa mengganti airnya, dua minggu sekali. Air sangat penting untuk makhluk hidup, karena air adalah sumber kehidupan. 
  • Batu berbentuk liang sebagai tempat bersembunyi juga bisa dimasukan. Dan dekorasi lainya seperti kayu, tumbuhan plastik dan lainya bisa menjadi hal yang tidak diwajibkan.

Untuk makanan tidaklah terlalu susah dan merepotkan. Faktanya, ketonggeng dapat hidup tanpa asupan makanan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Binatang ini juga makan tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sering. Tapi takaran makanan mereka saat bersama dengan kita sebagai binatang peliharaan itu seberapa ?.

Jadwal Makan

Video di atas menunjukan bagaimana ketonggeng diberimakan oleh pemiliknya berupa jangkrik hidup.

Pemberian makanan ketungging anakan dan dewasa tentu saja berbeda. Pakan harus disesuaikan dengan ukuran mulut dan kesanggupan mereka untuk menghabiskan mangsanya. Maka dari itu, kalian harus benar-benar memperhatikan tulisan ini, bahwa apa yang dipaparkan disini adalah untuk ketonggeng dewasa.

  • Pemberian jangkrik berukuran sedang sebanyak 3 - 4 ekor dalam waktu 3 minggu itu sudahlah cukup.
  • Ambil makanan yang tersisa setelah melewati waktu 24 jam, ini bertujuan agar kandang tetap bersih, terhindar dari penyakit, dan hal-hal lain yang tidak diinginkan.
  • Tunggu selama kurang lebih satu minggu setelah teledu melakukan moulting atau pergantian cangkang sebelum memberi makan. Moulting adalah hal yang wajar terjadi pada hewan berbuku-buku, jadi jangan kuatir.
  • Waktu terbaik memberi mereka makan adalah pada saat malam hari atau setelah matahari terbenam. Itu masuk akal karena mereka hewan nokturnal.

Kesimpulan

Hewan yang tidak berbahaya karena tidak beracun dan cairan pertahanan yang mereka semburkan aman untuk kulit manusia. Bahkan kalajengking cambuk untuk beberapa spesiesnya bisa dijadikan hewan peliharaan atau diperjualbelikan dengan harga yang tinggi. Dari segi spesies juga sangat beragam walaupun pembahasan detailnya sangatlah susah untuk didapatkan karena kurangnya informasi.

Referensi

Semua sumber pustaka dan gambar yang ada dalam artikel ini, dapat kalian ketahui dengan mengunduhnya melalui link ini.
Related Posts
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar